Minggu, 08 April 2012

Mencarikan Jodoh, Jangan Asal . . .

Bersemangat mencarikan jodoh tentu baik. Apalagi besar pahalanya bila orang-orang yang kita jodohnya berhasil mencapai mahligai rumah tangga. Namun, mencarikan jodoh bukan sekedar mempertemukan sesosok pria pada sesosok wanita yang slap menikah. Ada adab-adab dan pertimbangan yang perlu diperhatikan.
Niat lurus modal utama
Ustadzah Sinta Santi, Lc menjadikan niat lurus sebagai modal utama para comblang yang bermaksud mencarikan jodoh bagi orang lain, agar keberkahan dari Allah pun bisa terlimpahkan. Pada yang dicarikan, juga pada yang mencarikan.
Misalnya saja, seseorang mencarikan jodoh sebagai bantuan kepada sahabat atau saudara, atau dalam ambil bagian memperkecil pintu¬pintu kemaksiatan, atau mempermudah urusan pernikahan di dalam masyarakat.
Apapun itu, jelas Sinta Santi lagi, jangan meniatkan usaha percomblangan ini demi tujuan-tujuan memperoleh keuntungan pribadi. Semisal demi mendapatkan nama baik, memupuk jasa atau bahkan berharap mendapat imbalan semacam pembayaran, yang kesemua ini berpotensi menutup pintu berkah.
Psikolog Budi Darmawan juga menyebutkan kehalalan satu motivasi pribadi yang bahkan dianjurkan untuk diingat-ingat. “Janji Allah untuk memberikan rumah di surga bagi mereka yang bisa mempertemukan orang dalam satu mahligai rumah tangga sangat layak untuk dikejar,” jelasnya.
Pentingnya keselarasan
Sebelum memulai usaha menjadi comblang, siapkan bekal pertanyaan pada calon yang akan dijodohkan. Sebagai patokan Sinta Santi menyebut tiga pertanyaan mendasar yang perlu diajukan; Siapkah dia menikah? Maukah dibantu dicarikan jodohnya? Apa kriteria-kriteria ideal yang dia inginkan dalam mewujudkan rumah tangganya kelak?
Pertanyaan mengenai kriteria ideal bisa menjadi jalan mencarikan jodoh yang selaras. Sebab, keselarasan atau yang biasa dikenal sebagai faktor kufu akan sangat menentukan keberhasilan perjodohan. Pengetahuan akan kriteria ideal ini juga bisa memudahkan comblang melakukan ‘negosiasi’ pada si pencari pasangan untuk bertoleransi pada calon yang hanya ‘mendekati’ kriteria ideal.
Namun, menjadi sangat penting bagi comblang dan pencari pasangan untuk memahami faktor keselarasan atau kufu yang utama adalah pada persoalan-persoalan prinsip seperti; aqidah, visi misi berkeluarga, akhlak karimah, prinsip kemaslahatan umat. Baru dilanjutkan dengan keselarasan lain, seperti pendidikan, usia, status social, hobi, minat, hingga keselarasan jasmani.
Demi mempertegas pentingnya mengutamakan keselarasan dalam soal prinsip keislaman, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal; karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka beruntunglah orang yang memilih karena sebab agamanya… (HR Bukhari dan Muslim)
Kriteria comblang yang balk
Budi Darmawan secara khusus menyebutkan lima kriteria yang perlu dimiliki comblang yang balk. Kriteria-kriteria ini, bila dijaga benar, mudah-mudahan mendorong banyak kemudahan dan berkah dari Allah Swt.
Pertama, hendaklah seorang yang ingin mencarikan jodoh bagi orang lain memahami visi misi berkeluarga yang benar. Dia harus paham apa tujuan orang membina mahligai rumahtangga, sehingga bisa pula mengarahkan ini pada calon yang akan dicomblanginya.
Kedua, sebaik-baik comblang adalah yang sudah berkeluarga. Sebab, papar Budi, sesuatu tidak akan dapat dirasakan, dipahami, dimengerti kecuali oleh orang yang sudah mengalaminya sendiri. “Orang yang dicarikan jodoh tentu akan bertanya ini dan itu. Maka, seorang comblang bisa memberi jawaban bila dia sudah membentuk sebuah keluarga pula.”
Ketiga, sebaiknya, seorang comblang juga sudah menggenggam pengetahuan dan pemahaman akan kunci-kunci kebahagiaan berumah tangga. Sehingga dia bisa menularkan pengetahuan dan pemahaman bahwa pernikahan yang tengah diupayakannya ini bukan sekedar mempertemu-temukan sosok slap menikah, tetapi juga untuk mencapai mahligai rumah tangga yang penuh ketenangan, cinta, kasih sayang, kebahagiaan dan langgeng.
Keempat, berkait dengan ketiga kriteria pertama, seorang comblang sepatutnya dapat dijadikan contoh atau tolok ukur berkehidupan rumah tangga yang baik bagi calon pengantin. Sebab, kehidupan berumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah dan istiqomah jauh lebih mudah dilihat dan dipahami lewat contoh teladan daripada seribu teori yang dikemukakan.
Kelima, sebelum menjadi comblang, hendaknya kita memahami adanya adab-adab islami yang perlu dipertimbangkan untuk melancarkan proses perjodohan. Baik berkaitan dengan sifat manusia, kultur atau budaya hingga kebiasaan balk yang perlu dijaga.
Menjaga perasaan malu, harga diri, dan kerahasiaan aib orang lain, misalnya, adalah faktor utama yang harus dipegang erat seorang comblang. Begitu pula dengan upaya-upaya perjodohan yang dipilih, sedapat mungkin yang bisa membuat kedua belah pihak merasa nyaman dan tidak merasa tersakiti siapapun.
Prosedur percomblangan
Berangkat dari pemahaman bahwa tidak ada pacaran dalam Islam, pecomblang pun harus mengupayakan semaksimal mungkin agar ikhtiar perjodohannya bersih dari konteks pacar-pacaran. Cukup dengan pemahaman soal kriteria yang diinginkan calon pengantin, urusan selanjutnya bisa dijabarkan lebih lanjut lewat comblang sebagai perantara hubungan.
“Karena umumnya laki-lakilah yang melamar wanita, pihak lelakilah yang sebaiknya diberi  pertama kali data diri calon istri yang sudah diupayakan oleh si comblang berkesesuaian dengan kriteria keduanya,” papar ayah 13 anak ini. Tentu saja, prinsip yang berlaku adalah memberi sesuai kebutuhan dan kecukupan.
“Namun,” tegas Budi  segera, “jangan ini lantas diartikan, seorang lelaki bisa dibanjiri data-data akhwat untuk kemudian dia pilih-pilih seperti pembeli masuk ke toko, seperti raja.”
Sejak awal, pencomblang tentu sudah punya info, kedekatan, siapa-siapa lelaki atau perempuan yang slap menikah. Lalu, setelah ditanya kesiapan, dan kriteria yang diinginkan, bisa mulai dicari calon yang kira-kira cocok atau mendekati kriteria dimaksud. Bisa saja, comblang ini lantas minta bantuan pada suami/istrinya, sahabat, teman, atau keluarganya, untuk ikut mencarikan.
Bila sudah oke, jelas Budi, sebaiknya data diri wanita diberikan dan dijelaskan pada pihak laki¬laki, tanpa sepengetahuan sang wanita. “Ini untuk menghindari rasa tidak nyaman, bila sang wanita tahu dia tengah dipilih, apalagi kalau ternyata tidak jadi nantinya.”
Untuk memantapkan hati, bisa saja, sang lelaki diberi kesempatan melihat sang wanita, balk lewat secarik foto, atau kesempatan bertemu dalam suatu acara yang “diatur”. Kalau kemudian sang lelaki oke-oke saja, juga kelihatannya tak ada masalah dengan keluarga misalnya, barulah pihak wanitanya yang diberikan data diri sang lelaki. “Dari sini dipersilakanlah sang wanita memutuskan, apakah oke atau tidak.”
Proses ini memang mengacu pada keumuman sifat manusia, diantaranya sensitivitas perasaan seorang perempuan. Bila ada ganjalan-ganjalan awal dari pihak lelaki yang menyebabkan proses perjodohan tak berlanjut, sang wanita tak akan terluka. Sementara bila ada ganjalan yang berujung pada putusnya proses perjodohan dari pihak wanita, pihak lelaki diharapkan lebih “tabah” menghadapinya.
Bila keduanya ternyata oke-oke saja, dapat dilakukan masa pengenalan (ta’aruf) tingkat lanjut, yaitu pertemuan diantara mereka berdua, didampingi para perantara masing-masing. Di sini diharapkan kedua calon pengantin bisa saling terbuka bertanya dan menjelaskan apa-apa yang menjadi ide, visi, misi berkeluarga, hingga hal-hal khusus lainnya sehingga tercapailah keselarasan diantara mereka.
Bila semua prosedur ini dijalankan dengan iringan ketulusan hati, doa dan ikhtiar semua pihak, maka proses khitbahpun sudah terhampar di depan mata untuk segera ditentukan tanggal mainnya tanpa berbelit-belit, tanpa berlama-lama. Insya Allah.
Sumber  Majalah Wanita Ummi No.12/XVII  April 2006
http://www.salimah.or.id/mencarikan-jodoh-jangan-asal/

Sabtu, 07 April 2012

Makhluk Penuh Cinta



Ibu adalah makhluk yang diciptakan dengan penuh cinta,  artikel ini dipersembahkan untuk semua ibu di seluruh bumi ini.
Allah Maha Penyayang. Sudah paham kita bahwa kata ‘maha’ pada sifat Allah itu telah menunjukkan bahwa Allah swt tiada tandingannya dalam sifat itu. Tapi tetap saja Rasulullah memperbandingkan sifat kasih sayang Allah dengan sifat kasih sayang makhluk – untuk memberi pemahaman kepada umat bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kasih sayang yang diperbandingkan. Tentu kasih sayang makhluk yang diperbandingkan itu bukanlah kasih sayang yang sepele. Kalau kita ingin memberi pemahaman pada anak kita yang masih kecil sebesar apa ikan paus itu, tentu kita tidak akan memperbandingkan dengan ikan cupang, tapi kita akan katakan “tahu sebesar apa ikan hiu atau lumba-lumba? Ikan paus jauh lebih besar.”
Umar bin Khatab pernah menceritakan pengalamannya setelah melewati suatu peperangan. “Didatangkan beberapa tawanan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ada di antara para tawanan seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. (tampaknya ia kebingungan mencari anaknya). Setiap ia dapati anak kecil di antara tawanan itu, ia ambil dan kemudian ia dekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabat, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Muttafaq Alaih)
Perbandingan itu membuat saya memahami bahwa begitu besar cinta Allah kepada makhluk-Nya mengalahkan setiap bentuk kasih sayang yang lain, sekaligus membuat saya tersadar begitu besarnya cinta seorang ibu sampai-sampai dijadikan perbandingan untuk cinta yang maha dahsyat milik Allah swt.
Sebuah Berita Memulai Cerita Cinta
Test Pack, Ultrasanografi (USG), atau apa pun medianya telah memulai perjalanan kisah cinta yang agung. Tidak malu-malu air mata menghias di kerling mata seorang calon ibu ketika mendapat berita hadirnya buah hati yang menyatu pada jasadnya. Bukan simbiosis mutalisme, apalagi parasitisme, tapi jalinan hubungan yang dijalani oleh organisme yang memakan makanan induk semangnya pada jasad seorang wanita merupakan simbiosis cintaisme. Simbiosis yang sangat-sangat ditunggu oleh seorang wanita.
Setelah hadirnya kabar itu, seorang wanita akan menemukan cinta di sekelilingnya, di setiap harinya.
Morning Sickness dan Semua Kepayahan
Jasadnya saja yang menderita morning sickness, tapi hatinya along day hapiness. Rasa mual memang mengganggu, tapi tak menjadi beban pikiran. Dan setiap kepayahan yang terasakan, tak mampu mempengaruhi hari-hari bahagia seorang wanita. Ada cinta baru, kebahagiaan, dan rasa syukur kepada Allah swt yang berkekuatan dahsyat mendominasi kesadaran wanita tanpa ada yang bisa mengkudetanya.
Siapa yang bilang kalau cinta itu pasti selalu mudah dan menyenangkan?
Ekspresi yang Tak Rasional
Seorang pria dengan pikiran rasionalnya mempertanyakan kebiasaan seorang wanita mengandung yang rajin mengelus perut dan berbicara pada janinnya. “Sia-sia. Bagaimana mungkin jasad itu mengerti apa yang kau lakukan dan apa yang kau katakan?” Wanita itu menjawab, “Ah, tahu apa kamu tentang cinta ini. Apakah kau percaya ada energi hangat yang jatuh dari matahari ke bumi? Kau melihatnya? Kalau kau tak melihatnya tapi percaya, maka lebih masuk akal lagi bahasa cinta ini. Tapi kemampuan rasional mu terbatas, wahai pria…”
Perbincangan wanita pada janinnya itu monolog. Indoktrinasi cinta dari seorang calon ibu pada anaknya.
Dan Wujud Cinta itu pun Terlihat Nyata
Yang mencintai merasakan perih, yang dicintai menangis keras. Ada pertengkaran kah? Justru puncak kebahagiaan baru saja hadir. Rasa geregetan selama sembilan bulan untuk segera melihat buah hati tuntas sudah. Cinta bergemuruh di dada seorang ibu. Kalau selama ini usapan cinta terhalang oleh perut, kini cinta itu bisa ditransfer langsung di dekat jantung seorang ibu. Jantung yang tiap hari denyutnya digerakkan oleh cinta.
Seorang ibu mengerti, bila bayi menangis di tengah malam adalah karena ia rindu mendengar detak jantung si ibu. Selama sembilan bulan sebelumnya si bayi tak pernah alpa sehari pun mendengar denyut jantung si ibu, kini setelah lahir si bayi merasa kehilangan denyut cinta itu. Karenanya, kapan pun ia merasa rindu, si bayi mengeak keras.
Dan waktu terus berjalan, sang anak tumbuh besar. Tapi cerita cinta si ibu tidak pernah berhenti. Ketika seorang anak sudah lama disapih, sudah lupa bunyi detak irama cinta dari ‘alat musik’ jantung seorang ibu, si anak pun mulai tergerus kesadarannya akan cinta seorang ibu. Itu yang membuat seorang anak berani menantang ibunya. Semoga bukan karena tidak mampunya ibu membahasakan cinta pada seorang anak ketika si anak telah tumbuh. Karena bahasa cinta di setiap umur seorang anak itu berbeda-beda. Seorang ibu harus paham bahasa yang tepat untuk setiap usia.
Bahkan setelah remaja, seorang anak mulai memadu cinta ibunya. Tak masalah karena itu fitrah. Tapi saat nama lain mulai masuk ke hati, sering kali nama itu bersikap egois dengan berusaha menyingkirkan nama ibu yang sebelumnya ada di hati seorang anak. Tragis. Semoga bukan karena kedudukan cinta ibu di hati anak yang memang lemah. Seorang anak di dunia ini akan menemukan berbagai cinta, kalau ibu tidak mampu mengokohkan cintanya di hati seorang anak, maka cinta ibu itu rawan dikalahkan oleh cinta lain.
Bakti yang Agung Pada Manusia Penuh Cinta
Cinta. Menjadi alasan yang kuat kalau seorang muslim wajib menaati orang tuanya, terutama ibu. “Penuhilah hak ibu, sebab surga berada di bawah telapak kakinya.” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i; diriwayatkan juga oleh Bukhari, kita adab; Thabrani; dan Al-Hakim). Kalau Rasulullah mengumpamakan surga berada di bawah telapak kaki ibu, lalu apa yang ada di kening seorang ibu? Cinta di jantung seorang ibu, surga di telapak kakinya.
Seorang hamba merindukan keridhoan Tuhannya. Ia lakukan amal-amal jawarih (amal anggota tubuh) dan nawafil (sunnah). Ia tahan kantuk di sepertiga akhir malam, ia tahan lapar di siang hari, dan bergegas ia ke masjid untuk ihtiromil waqtih (menghormati waktu) sholat wajib. Sudah sampai kah pada ridho Tuhannya? “Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi,Hakim). Kalau ia belum melakukan birrul walidain (berbuat baik pada orang tua) sehingga orang tuanya ridho, amal-amal itu beserta kesusahannya belum membuat Allah swt ridho.
Keridhoan orang tua… padahal itu mudah. Karena cinta ibu pada anak tertanam kuat di jantungnya. Kesusahan mengandung, melahirkan, dan mengasuh adalah upaya menanam pondasi cinta sampai ke dasar jantung. Apa yang dapat meruntuhkan bangunan kokoh itu? Kedurhakaan!!
“Siapa yang membuat orang tuanya sedih, maka ia telah durhaka kepada keduanya.” (HR Bukhari)
Hamba itu ingin menyempurnakan usahanya. Ia tak mampu terus menerus sholat dan puasa sepanjang waktu. Tapi ada amal ruhbaniah/kependetaan (seperti pada hadits riwayat Ahmad) yang sebanding dengan terus menerus sholat dan puasa selama mengerjakan amal itu. Yaitu jihad. (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah). Hamba itu bersemangat kepada amalan itu. Adakah halangan?
“Aku ingin berangkat perang, dan aku datang untuk meminta nasihat Anda.” Kata seorang pemuda kepada Rasulullah saw. Lalu Nabi bertanya, “Apakah Anda masih punya ibu?” Jawab pemuda itu, “Ya masih.” Nabi berkata “(Kalau begitu) pergilah, penuhilah kewajiban Anda untuk berbakti kepadanya, sebab surga itu berada di antara kedua kakinya.” (HR Hakim, shahih menurut beliau dan disepakati Adz-Dzahabi).
Ibu… wanita itu adalah manusia penuh cinta. Respon lah cinta itu karena surga dan keridhoan Allah bergantung dari bagaimana kita merespon cinta ibu.
Robirhamhuma kama robbayani sighoro. “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS 17:24)
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS 46:15)
Sumber
Islamedia

Selasa, 03 April 2012

Tugas Neraca Saldo

Neraca Saldo
Kode Rek Nama Rek Debit  Kredit
Kas  Rp      10,800,000
Piutang Usaha  Rp        5,600,000
Asuransi Dibayar Dimuka  Rp        4,500,000
Perlengkapan  Rp        2,600,000
Peralatan  Rp    120,000,000
Utang Wesel  Rp      80,000,000
Utang Usaha  Rp        4,800,000
Modal Ny. Susi  Rp      60,000,000
Prive Ny. Susi  Rp        4,000,000
Pendapatan Jasa  Rp        9,800,000
Beban Gaji  Rp        6,400,000
Beban Listrik  Rp        1,600,000
Beban Iklan  Rp           800,000
 Rp   154,600,000  Rp   154,600,000




Laporan Laba Rugi

Debet Kredit

Pendapatan Jasa  Rp        9,800,000

Beban Gaji  Rp        6,400,000

Beban Listrik  Rp        1,600,000

Beban Iklan  Rp           800,000

Beban Asuransi  Rp           400,000

Beban Perlengkapan  Rp           600,000

Depresiasi Peralatan  Rp        1,800,000

Beban Bunga  Rp        1,000,000

 Rp      12,600,000  Rp        9,800,000

Rugi Bersih  Rp     2,800,000

 Rp     12,600,000  Rp   12,600,000













Neraca


Kas  Rp      10,800,000

Piutang Usaha  Rp        5,600,000

Asuransi Dibayar Dimuka  Rp        4,500,000

Perlengkapan  Rp        2,600,000

Peralatan  Rp    120,000,000

Utang Wesel  Rp      80,000,000

Utang Usaha  Rp        4,800,000

Modal Ny. Susi  Rp      60,000,000

Prive Ny. Susi  Rp        4,000,000

Peralatan  Rp        1,800,000

Utang Bunga  Rp        1,000,000

 Rp    144,800,000  Rp    147,600,000

Rugi Bersih  Rp       2,800,000

 Rp   147,600,000  Rp   147,600,000

Kamis, 01 Maret 2012

Analisis Laporan keuangan ( Bank Saudara )

Laporan Keuangan 2010

Link Download
http://www.4shared.com/office/tBTGZEBB/Fa-BankSaudara_per_Sep_FINAL.html

Link Untuk melihat Dokumen
http://www.scribd.com/fullscreen/83318822?access_key=key-1d1lsu6wlglt1ijv5i2a

Analisis Laporan keuangan 2010

Rasio Keuangan                                                           30 Sept 2010          30 Sept 2009
Kewajiban penyediaan modal minimum                         15,01 %                  12,65 %
Aset produktif bermasalah dan aset Nnon produktif        1,70 %                    1,55 %
Bermasalah terhadap total asset produktif dan
Asset non produktif
Asset produktif bermasalah terhadap total asset              1,61 %                    1,42 %
Produktif
Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN)                   1,79 %                    1,77 %
Asset keuangan terhadap asset produktif
NPL – Gross                                                                 1,73 %                    1,60 %
NPL – Netto                                                                 0,73 %                    0,74 %
Return on asset (ROA)                                                  2,89 %                    1,94 %
Return on equity (ROE)                                               17,92 %                   14,01 %
Net interest margin (NIM)                                             9,63 %                     8,44 %
Biaya operasional terhadap pendapatan operasional     81,46 %                   93,71 %
Loan to deposit rasio (LDR)                                      101,49 %                   95,73 %






Laporan Keuangan 2011

Link Download

Link untuk melihat langsung

Analisis rasio

Rasio Keuangan                                                            2011                       2010
Kewajiban penyediaan modal minimum                       15,14 %                  15,01 %
Aset produktif bermasalah dan aset Nnon produktif      1,92 %                    1,70 %
Bermasalah terhadap total asset produktif dan
Asset non produktif
Asset produktif bermasalah terhadap total asset            1,87 %                    1,61 %
Produktif
Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN)                 1,63 %                    1,79 %
Asset keuangan terhadap asset produktif
NPL – Gross                                                               2,06 %                    1,73 %
NPL – Netto                                                               0,69 %                     0,73 %
Return on asset (ROA)                                                3,40 %                     2,89 %
Return on equity (ROE)                                             26,13 %                   17,92 %
Net interest margin (NIM)                                         10,00 %                     9,63 %
Biaya operasional terhadap pendapatan operasional    79,82 %                  81,46 %
Loan to deposit rasio (LDR)                                       91,33 %                101,49 %


Tugas 1 Analisis Laporan Keuangan

LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi :
  • Neraca
Di dalam akuntansi keuangan, Neraca atau laporan posisi keuangan adalah bagian dari laporan keuangan suatu entitas yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan entitas tersebut pada akhir periode tersebut. Neraca terdiri dari tiga unsur, yaitu aset, liabilitas, dan ekuitas yang dihubungkan dengan persamaan akuntansi berikut:
aset = liabilitas + ekuitas
Informasi yang dapat disajikan di neraca antara lain posisi sumber kekayaan entitas dan sumber pembiayaan untuk memperoleh kekayaan entitas tersebut dalam suatu periode akuntansi (triwulanan, caturwulanan, atau tahunan).
  • Laporan laba rugi
Laporan laba rugi adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menjabarkan unsur-unsur pendapatan dan beban perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba (atau rugi) bersih.
  • Laporan perubahan ekuitas
  • Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa laporan arus kas atau laporan arus dana
  • Catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan
Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban,dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinereja dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Laporan posisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur neraca

Perbedaan Pelaporan dan Laporan Keuangan

Pelaporan Keuangan meliputi segala aspek yang berkaitan dengan penyediaan dan peyampaian informasi keuangan. Aspek-aspek tersebut antara lain lembaga yang terlibat (misalnya penyusunan standar, badan pengawas dari pemerintah atau pasar modal, organisasi profesi, dan entitas pelapor), peraturan yang berlaku termasuk PABU (prinsip akuntansi berterima umum atau generally accepted accounting principles/GAAP). Laporan keuangan hanyalah salah satu medium dalam penyampaian informasi. Bahkan seharusnya harus dibedakan pula antara statemen

Pemakai Laporan Keuangan

  • Investor
Dalam dunia keuangan, investor adalah orang perorangan atau lembaga baik domestik atau non domestik yang melakukan suatu investasi (bentuk penanaman modal sesuai dengan jenis investasi yang dipilihnya) baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.
  • Karyawan
  • Pemberi Pinjaman
  • Pemasok dan Kreditor usaha lainnya
Rantai suplai, rantai pasokan, jaringan logistik, atau jaringan suplai adalah sebuah sistem terkoordinasi yang terdiri atas organisasi, sumber daya manusia, aktivitas, informasi, dan sumber-sumber daya lainnya yang terlibat secara bersama-sama dalam memindahkan suatu produk atau jasa baik dalam bentuk fisik maupun virtual dari suatu pemasok kepada pelanggan
  • Pelanggan
  • Pemerintah
Pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu.
  • Masyarakat

 Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tujuan laporan keuangan adalah Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.

Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.

Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen (bahasa Inggris: stewardship), atau pertanggung jawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin melihat apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi. Keputusan ini mencakup, misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat empat karakteristik kualitatif pokok yaitu :
  • Dapat Dipahami
  • Relevan
  • Keandalan
  • Dapat diperbandingkan
Dasar Laporan Keuangan

Laporan keuangan perusahaan didasarkan pada aturan-aturan akuntansi dan harus memberikan informasi historis, kuantitatif dasar yang merupakan sekumpulan input yang penting yang digunakan dalam menghitung nilai-nilai ekonomis.
Laporan keuangan terdiri dari :
  1. Laporan laba rugi yaitu laporan mengenai penghasilan, biaya, laba-rugi yang diperoleh suatu perusahaan    selama periode tertentu.  
  2. Neraca yaitu laporan mengenai aktiva, hutang dan modal dari perusahaan pada suatu saat tertentu. 
          - Aktiva, dibagi menjadi dua yaitu : 
          a. Jangka panjang, yaitu jangka waktu lebih dari 1 tahun 
          b. Jangka pendek, yaitu jangka waktu 1 tahun atau kurang dari 1 tahun. 

         - Hutang dapat diklasifikasikan menjadi : 
         a. Dijamin penuh, kreditor yang diberi jaminan sama atau lebih dari besarnya hutang. 
         b. Dijamin sebagian, kreditor yang diberi jaminan kurang dari besarnya hutang
         c. Kreditur tidak dijamin, kreditor yang tidak diberi jaminan dalam bentuk barang-barang tertentu. 
    3. Laporan laba ditahan yaitu daftar kumulatif laba yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya dan tahun
        berjalan yang tidak dibagikan sebagai deviden.
    4. Laporan arus kas yang menunjukkan operasi perusahaan, investasi, dan aliran kas pembiayaan.

Sifat Laporan Keuangan
Laporan keuangan dibuat dengan maksud memberikan gambaran kemajuan (progress report) perusahaan secara periodik. Jadi laporan keuangan bersifat histories serta menyeluruh dan sebagai suatu progress report. Laporan keuangan terdiri dari data-data yang merupakan hasil dari kombinasi antara fakta yang telah dicatat, prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan dalam akutansi serta pendapat pribadi.

Fakta-fakta yang telah dicatat, laporan keuangan dibuat berdasarkan fakta dari catatan akutansi, pencatatan dari pos-pos ini merupakan catatan histories dari peristiwa yang telah terjadi dimasa lampau dan jumlah uang yang tercatat dinyatakan dalam harga pada waktu terjadinya peristiwa tersebut. Dengan sifat yang demikian maka laporan keuangan tidak dapat mencerminkan posisi keuangan dari suatu perusahaan dalam kondisi perekonomian paling akhir.

Prinsip dan kebiasaan di dalam akutansi, data yang dicatat didasarkan pada prosedur maupun anggapan-anggapan tertentu yang merupakan prinsip-prinsip akutansi yang lazim, di dalam akutansi juga digunakan prinsip atau anggapan-anggapan yang melengkapi konvensi-konvensi atau kebiasaan yang digunakan antara lain : bahwa perusahaan akan tetap berjalan sebagai suatu yang going concern, konsep ini menganggap bahwa perusahaan akan berjalan terus, konsekwensinya bahwa jumlah-jumlah yang tercantum dalam laporan merupakan nilai-nilai untuk perusahaan yang masih berjalan yang didasarkan pada nilai atau harga pada terjadinya peristiwa itu. Jadi jumlah uang yang tercantum dalam laporan bukanlah nilai realisasi jika aktiva tersebut dijual.

Pendapat pribadi, dimaksudkan bahwa walaupun pencatatan akutansi telah diatur oleh dalil-dalil dasar yang telah ditetapkan yang sudah menjadi standar praktek pembukuan, namun penggunaan tersbut tergantung oleh akuntan atau pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan missal dalam menentukan nilai persediaan itu tergantung pendapat pribadi manajement serta berdasar pengalaman masa lalu


Keterbatasan Laporan Keuangan

1.   Laporan keuangan sifatnya sementara dan bukan laporan yang final, karena itu jumlah dan hal-hal yang dilaporkan dalam laporan keuangan tidak menunjukan nilai likuiditas atau realisasi dimana dalam pembuatannya terdapat pendapat-pendapat pribadi yang telah dilakukan oleh akuntan atau management yang bersangkutan.
2.  Angka yang tercantun dalam laporan keuangan hanya merupakan nilai buku (book value) yang belum tentu sama dengan harga pasar sekarang maupun nilai gantinya.
3.  Untuk para investor laporan keuangan hanya bersifat membantu, masih memerlukan ramalan -ramalan sebabnya adalah bahwa data-data yang disajikan oleh akutansi semata-mata hanya didasarkan atas “cost” (yang bersifat histories) dan bukan atas dasar nilainya, akhirnya timbul jurang yang cukup besar antara hak kekayaan pemegang saham berupa aktiva bersih perusahaan yang dinyatakan dalam harga pokok historis dengan harga saham yang tercatat dibursa. (ikatan akutansi Indonesia, Jakarta 1974).
4.   laporan keuangan bersifat konserfatif dalam sikapnya menghadapi ketidakpastian, peristiwa yang tidak menguntungkan segera diperhitungkan kerugiannya. Harta, kekayaan bersih, dan pendapatan bersih selalu dihitung dalam nilainya yang paling rendah.
5.   Laporan keuangan itu bersifat umum, dan bukan untuk memenuhi keperluan tiap-tiap pemakai

Sumber :